Liburan

December 10th, 2008 by plung

Enak juga libur kayak gini. Bisa ngapa-ngapain seenaknya. Maksudku, nggak harus memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang memang nggak pengen kulakukan. Kalau lagi nggak libur mo males seperti apa ya mesti ngajar. Padahal kan sesuatu yang dipaksakan itu hasilnya nggak bakal bagus ya..? (dasarnya males aja neh).

Aku merasa butuh libur. Sekadar untuk refreshing. Kerja terus-terusan bikin suntuk. Aku pengen libur bukan berarti aku nggak pengen ngapa-ngapain, tidur terus di atas tempat tidur. Pas liburan aku pengen melakukan hal-hal yang nggak sempet aku lakukan ketika aku kerja. Beres-beres rumah, nyiapin sarapan buat Izzah dan Mas Awal, belanja, sekadar menengok keadaan kota Yogyakarta tercinta (sekadar untuk diketahui: setelah aku ngajar di sekolah tempatku ngajar sekarang, aku jarang banget ke kota). Perjalananku sehari-hari ya rumah – sekolah – rumah. Kayak gitu setiap hari. Paling mentok sampai Pasar Sleman (deket tempatku ngajar). Haha! Tempatku ngajar sebenarnya bisa dibilang lumayan kota. Tapi ya nggak sebanding kalau sama kota Jogja. Toko buku aja nggak ada (yang ada toko buku tulis).Pun ada paling-paling juga nggak lengkap. Lebih lengkap perpustakaan di sekolah mungkin. Under estimate banget ya?! Hehe..

Udah lama banget kayaknya nggak maen ke toko buku. Ada kesempatan jalan-jalan ya kalau pas liburan. Kalau pas libur hari Ahad, pengennya buat istirahat aja di rumah, menghabiskan waktu sama keluarga. Mengingat enam hari sebelumnya sebagian besar waktuku sudah kuhabisakan untuk pekerjaan. Selain itu, hari Senin aku juga harus ngajar lagi dan kebetulan aku piket PKS. Piket PKS berarti aku harus sudah nyampe di sekolah maksimal jam 6 pagi. Pffiuh! Jadi ya mesti hemat energi biar besoknya siap tempur B-) Meskipun menyenangkan, perjalanan ke kota ngajak Izzah by motorcycle tetap saja melelahkan. Hehe..

Ini baru pemanasan liburan. Libur seminggu karena Idul Adha. Aku udah nggak sabar pegen segera liburan akhir semester. Enaknya libur … :D

Semoga Allah memberikan kemudahan

February 1st, 2008 by plung

Hari yang
melelahkan! Sama seperti jum’at pada minggu-minggu sebelumnya, hari ini ada rapat di
kantor. Bedanya kalau biasanya jam tiga sudah selesai ,hari ini rapat baru selesai
jam empat. Pfuh! What a day!

Ditambah lagi
hari ini ada pemberitahuan bahwa hari minggu besok semua guru dapat tugas
keluar. Sebagian nganterin anak yang ikut lomba permainan tradisional, sebagian
lagi datang di acara milad Muhammadiyah di GOR UNY. Oke. Terus, gimana kabar
anakku?? Setiap hari sibuk ngurusi anak orang lain. Kapan anak sendiri diurus?

Berangkat jam
6, paling cepat pulang jam setengah 3. Pekerjaan yang ga “mother friendly”
banget deh rasanya. Tapi ya, seperti banyak dikatakan oleh orang2 di
sekelilingku, aku harus sabar. Aku pernah berpikir bahwa jadi guru adalah
pekerjaan yang tidak berat. Bukan berarti meremehkan profesi guru. Hanya saja, dulu
aku sempat berpikir kalau jadi guru akan lebih mudah membagi waktu antara
keluarga dan pekerjaan. Tapi ternyata aku salah. Pagi-pagi saat ibu-ibu lain
menyiapkan sarapan atau sekadar bermain dengan putra-putrinya, aku harus sudah
bersiap-siap ke kantor.

Sampai saat
ini aku masih bertanya-tanya, bisa ga ya seorang ibu bekerja optimal didua-duanya,
keluarga dan pekerjaan. Kesimpulanku (sampai hari ini) adalah ga bisa. Kalau mau
optimal di keluarga, akan ada beberapa hal di pekerjaan yang harus dikorbankan
dan sebaliknya.

Jelas keluarga
adalah prioritasku. Aku tidak ingin mengorbankan keluargaku. Tapi, dengan
melihat jam kerjaku saja rasanya aku sudah melanggar hak-hak keluargaku.

Tapi bagaimana
pun aku harus menjalani ini. Tidak sekadar menjalani. Semoga aku bisa menjalani
ini dengan sabar dan ikhlas. Dan semoga pula keluargaku pun bisa ikhlas.

Semoga Allah
memberikan kemudahan. Amin.

Belum On Ngajar

January 15th, 2008 by plung

Sepertinya pak kepala sedang “galak” akhir2 ini. Tadi
beberapa teman yang nggak berangkat saat piket bersama dipanggil. Entahlah, aku
nggak tau pertanda dari apakah ini. Hehe..

Hari ini aku belum mulai membahas materi. Bisa dibilang aku
belum siap sepenuhnya untuk mulai ngajar lagi. Sindrom libur panjang neh
kayaknya. Haha! Hari ini jam pelajaranku sebagian besar kuhabiskan untuk
mempertegas beberapa hal ke anak-anak, terkait dengan aturan main di kelasku.
Semoga semester ini bisa lebih baik dari semester kemarin. Perbaikan ini
terutama sekali aku harapkan dari anak-anak  4C. diantara kelas 4 yang lain, kelasku inilah
yang dianggap paling “bermasalah”. Sampai sekarang sebenarnya aku masih
meraba-raba sebenarnya apa persoalan yang ada di kelas 4C sampai mereka bisa
ketertinggalan (banget) sama kelas yang lain. Aku berkeyakinan bahwa semua anak
pada dasarnya mampu untuk mengikuti pelajaran, hanya kemudian masing-masing
anak akan menemui persoalan-persoalan tertentu yang bersifat personal.
Persoalan satu anak akan berbeda dengan persoalan anak yang lain, karena
kondisi mereka memang berbeda-beda. Seharusnya mereka mendapatkan perlakuan
yang berbeda pula. Tapi.. mengingat jumlah mereka yang ada 30 itu, aku merasa
sangat kesulitan ketika harus melakukan pendekatan ke semua anak satu per satu.
Jadinya ya aku melakukan pendekatan pada anak-anak yang “sangat bermasalah”
saja. Aku coba melihat kembali perjalan semester 1 kemarin dan ngobrol sama
beberapa temanku yang ngajar 4C. Akhirnya aku membuat kesimpulan, persoalan
yang harus segera diselesaikan di kelas 4C adalah tentang konsentrasi anak-anak
di kelas dan persoalan geng-gengan. Aku udah coba ngobrol sama anak-anak hari
ini tentang dua persoalan tadi. Aku tekankan ke anak-anak bahwa di semester ini
mereka harus melakukan perbaikan dalam dua persoalan tadi. Semoga saja mereka
paham dengan apa yang aku bicarakan tadi. Oops.. :D

Pelajaran lain lagi yang aku ambil setelah melihat kembali
perjalananku di semester 1 kemarin adalah aku harus memperbaiki manajemen
waktuku. Mengingat di semester kemarin rasanya waktuku banyak habis untuk
urusan sekolah. Keluargaku jadi yang kesekian. Mulai sekarang aku bertekad
tidak akan membuat keluargaku yang nomor dua. Dulu ketika belum ada Izzah
mungkin banyaknya waktu yang aku habiskan di sekolah tidak akan terlalu
kupikirkan, karena suamiku pun nggak keberatan dengan itu. Tapi sekarang udah
ada Izzah, aku nggak mau dia jadi urutan dibawah sekolah. Keluarga seharusnya
jadi prioritasku. Dan satu-satunya cara agar aku bisa mewujudkan tekadku tadi
ya mengatur waktu dengan lebih baik lagi.

Selain untuk keluarga, aku pengen mulai sekarang aku juga
bisa meluangkan waktu untuk diriku sendiri. Setelah aku mulai bekerja di
sekolahku ini rasanya aku sudah jarang banget cari & baca buku, upadate
informasi dari media, update blog, komunikasi sama teman2ku, …. Berasa jadi
katak dalam tempurung. Pfuh, menyedihkan..!

Semoga mulai sekarang aku bisa meluangkan waktu untuk
melakukan itu semua. Dan semoga Allah SWT memberikan kemudahan padaku. Amin.

Insya Allah aku bisa! Seperti yang selalu aku katakan ke
murid-muridku, “Insya Allah kamu bisa
melakukan apa pun selama kamu bertekad/berniat. Berdoa dan bersungguh-sungguh
lah!”

Bismillah! :D

Senangnya…

September 21st, 2006 by plung

Senangnya bisa ke warnet, setelah sekian lama. Banyak hal yg ingin kuceritakan sebenarnya. Tapi tidak sekarang. Aku terlalu lelah untuk menceritakan berbagai hal yg kulalui…

Akhirnya…

December 23rd, 2005 by plung

Menikah. Ya, aku sudah membuat keputusan untuk menikah dengan seseorang. Percaya ga? Aku sendiri kadang masih ga percaya. Sepertinya terjadi begitu saja.

Keputusan yang tidak main-main memang. Jelas ini adalah keputusan besar dalam hidupku. Jangan tanya kenapa atau apa yang membuatku memilih seseorang ini menjadi (calon) suamiku. Aku tidak punya alasan untuk itu. Atau mungkin lebih tepatnya aku tidak bisa menjelaskan alasan itu dengan kata-kata. Bagiku semua ini adalah mengenai pilihan dan keputusan. Setelah pilihan dijatuhkan, keputusan diambil, jalani dengan penuh tanggung jawab. Itu saja.

Dulu aku pernah bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang bisa mengambil keputusan untuk menikah dan hidup bersama dengan seseorang. Bagaimana kalau dia bosan? Bagaimana kalau ternyata seseorang yang dia pilih itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan? Dan masih banyak bagaimana-bagaimana yang lain.

Aku yakin setiap orang mempunyai berbagai harapan yang baik mengenai (calon) pasangannya. Harapan-harapan yang dibangun atas kecenderungan pada diri manusia untuk mencapai kesempurnaan. Aku dan calon suamiku pun mempunyai harapan itu.

Aku yakin, calon suamiku menginginkan orang terbaik yang akan menjadi istrinya. Aku pun menginginkan orang terbaik yang akan menjadi suamiku, karena dia lah yang akan menjadi imam bagiku dan bagi keluarga yang akan kami bangun nanti.

Di sisi lain, aku sadar sepenuhnya bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sempurna. Tidak ada orang yang lahir ke dunia tanpa kekurangan atau pun tanpa kelebihan. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan itulah manusia belajar. Aku berharap dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada pada diriku dan diri calon suamiku, kami bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Menikah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan hidup. Menikah bukan hanya bicara tentang hal-hal manis dan bahagia-tanpa air mata. Pasti akan ada banyak masalah nantinya. Berbagai masalah yang (semoga) akan memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi kami. Berbagai masalah yang akan menempa kami untuk menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari, insya Allah. Masalah bukan lah sesuatu yang tidak menyenangkan selama kita bisa menikmatinya melalui jalan keikhlasan dan berikhtiar sebaik mungkin untuk mendapatkan solusi terbaik.

Bismillah..

Saat ini aku telah memilih seseorang untuk mendampingiku dalam berproses, belajar dan berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah SWT. Semoga kami berdua bisa menjaga keinginan yang kuat untuk selalu berusaha mendapatkan ridha-Nya. Amin.

Doain ya..

Btw kemarin pas aku lihat-lihat desain undangan, aku nemuin ada kata2 (doa) yang bagus banget. Doa yang juga aku panjatkan kepada Allah. Aku kutipin ya..

Ya Allah..

Semoga Engkau berkenan melimpahkan kepada kami, cinta yang Kau jadikan pengikat rindu seperti yang Kau berikan kepada Rasulullah dan Khadijah Al Qubra, cinta yang Kau jadikan mata air kasih sayang seperti yang Kau berikan kepada Ali dan Fatimah Azzahra.

Ya Allah..

Andai semua itu tak layak bagi kami, maka cukupkanlah dengan ridha-Mu untuk kami melangkah di hidup yang baru. Saling mengasihi di kala dekat, saling menjaga di kala jauh, saling menghibur di kala duka, saling menasehati dalam sabar dan syukur.

Ya Allah..

Sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah kepada-Mu dan bukti pengikat cinta kami kepada Rasul-Mu.

Amin …

Sekejap Waktu di Ibu Kota …

October 10th, 2005 by plung

Lebih dari 23 tahun aku hanya mendengar nama Jakarta dan melihatnya lewat televisi atau surat kabar. Akhirnya bisa juga aku bertandang ke kota itu. Tanggal 28 September kemarin aku berangkat ke Jakarta karena ada panggilan tes CPNS Deplu. Sebenarnya ga niat2 banget sih. Aku bukan orang yang senang bepergian dan berjalan-jalan jauh dari rumah. Jenis orang rumahan. Hehe.. Tapi sayang juga kalau mau dilewatkan. Akhirnya aku berangkat juga ke Jakarta, itung2 buat pengalaman.

Aku berangkat ke Jakarta bareng sama seorang temanku dan diantar sama kakakku. Kami ke Jakarta naik kereta ekonomi "Progo". Berangkat dari Jogja sekitar jam 5 sore. Alhamdulillah dapat tempat duduk. Meskipun pake acara deg2an juga. Gimana enggak, kakakku nggak beli tiket buat kami bertiga. Kakakku bilang, kami ikut restorasi. Maksudnya, ada petugas dari Perumka yang bawa kita2. Tetap bayar sih, tapi cuma 25 ribu. Harusnya sih bayar 38 ribu. Haha! Dasar kakakku yang satu itu.

Tapi sebenarnya aku ga terlalu khawatir juga sih pas di kereta, cuek aja. Lha wong sebagian besar waktuku di kereta aku habiskan buat tidur. Hehe.. Biasa, akibat sampingan karena minum antimo-obat anti mabok. Sekedar untuk diketahui, aku memang terkenal sebagai tukang mabok. Mabok kendaraan maksudnya. Haha! Payah! Doakan saja, predikat pemabuk itu bisa segera hilang dari diriku.

Kemalasanku untuk pergi2 (yang agak jauh dari rumah) mungkin juga karena urusan mabok2an tadi. Ga tau kenapa, aku bisa sampai tergerak untuk berangkat ke Jakarta. Padahal sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam, ga ada secuil pun keinginan untuk kerja di Jakarta. Aku dah sering mendengar cerita dari orang2 tentang Jakarta. Panas, macet, orang yang saling ga peduli, crowded, atau juga cerita tentang kekejamannya yang melebihi ibu tiri. Pokoknya ga enak banget kedengarannya. Atau mungkin juga karena aku dah cinta mati sama Jogja. Jogja, I love you. Sumpah!!

Balik ke kereta lagi ya. Aduh, kesiksa banget aku di kereta. Panas! Tidurku ga nyaman banget. Aku belum pernah naik kereta untuk perjalanan sejauh ini. Mmh.. tapi sepertinya perjalananku ke Jakarta ini memang perjalanan terjauhku. Hehe..
Singkat kata singkat cerita aja deh ya. Akhirnya aku nyampe di rumah bulikku (adiknya bapak), di Depok. Sempat lewat kampus UI, lha wong kami bertiga ikut bus kampus. Lumayan, gratis. Ga cuma bus kampus sih yang gratis, pas naik KRL ke stasiun UI juga gratis kok. Kami bertiga ga beli tiket (lagi). Tapi alhamdulillah kami baik2 saja dan bisa nyampe tempat bulik dengan selamat-sentausa. Hehe.. Btw, kampus UI tu bagus ya ternyata. Sejuk, banyak pohon2. Menyenangkan. Jadi pengen kuliah lagi. Alah! Ga ding. Hehe..

Kami nyampe di rumah bulik hari Kamis tanggal 29 sekitar jam setengah 9. Rumahnya nyaman, lumayan gede, ada banyak pohon dan tanaman di sekitar rumah, jadi masih bisa mendengar kicauan burung. Suara cicak juga ada. Kodok yang ga ada. Tapi agak2 panas. Jadi pengennya mandi terus.

Pengennya sih setelah dzuhur aku sama temanku mau ngambil kartu ujian ke Pusdiklat Deplu di Jalan Sisingamangaraja 73 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Alamat yang sama sekali ga kami tau. Makanya, aku minta dianterin sepupuku yang kuliah di Jakarta. Sepupuku ini kuliahnya di STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), di daerah Otista. Jakarta mana tuh, aku ga ngerti. Hehe.. Tapi hari itu sepupuku ga bisa nganter. Ya wis, akhirnya hari itu acaranya beristirahat di rumah. Kakakku yang bertugas mengantar aku dan temanku balik lagi ke Jogja setelah ashar. Dia mampir dulu ke tempat budeku di Klender (Jakarta mana lagi itu, aku juga ga tau), minta dianterin ke stasiun Jatinegara sama sepupuku.

Singkat kata singkat cerita (kalo mau yang ga singkat kita ketemu aja, nanti aku ceritain), sudah hari Jumat tanggal 30. Ini hari terakhir pengambilan kartu ujian. Aku, temanku dan sepupuku berangkat dari rumah bulik sekitar jam setengah 9, setelah kami sarapan. Perjalanan dari rumah bulik ke Pusdiklat Deplu, bukanlah perjalanan yang mudah untuk dilalui. Mesti ganti angkot beberapa kali, mesti nanya ke orang, salah angkot, jalan kaki lumayan jauh, kehujanan… Pfuh.. 
Tau ga, ternyata sepupuku ini belum pernah ke Pusdiklat Deplu. Padahal informasi yang aku dapat dari om ku (ayah sepupuku, kakak bulikku yang di Depok), dia udah pernah ke sana. Kacau dah! Tapi akhirnya ketemu juga. Alhamdulillah.

Singkat kata singkat cerita (lagi), setelah shalat dan makan siang kami melanjutkan perjalanan ke PRJ (Pekan Raya Jakarta), lokasi tes. Sampe sana udah sore, sekitar jam 4. di sana ga lama, kami cabut lagi. Mo pulang ke rumah bulik di Depok, ngambil baju. Setelah itu mo ke rumah bude di Klender. Rencananya, aku sama temanku mo nginep di sana biar ada yang nganter ke PRJ. Soalnya, sepupuku yang kuliah di STIS tadi ga bisa nganter. Tapi karena kesorean atau lebih tepatnya kemalaman (pake kehujanan juga), kami ga jadi ke Depok dulu tapi langsung ke Klender. Bayangpun! Itu berarti kami ga bawa perlengakapan dan baju ganti untuk nginep di bude. Haha! Tapi aku dan temanku berhasil melewatinya dengan baik (sepertinya).

Tanggal tes akhirnya tiba, Sabtu tanggal 1 Oktober 2005. Pagi2 aku dan temanku diantar sepupuku naik motor. Alhamdulillah kami ga harus berhubungan sama angkot pagi itu. Sehari sebelumnya, kami udah kenyang sama angkot. Temanku sempat ngitung, sehari kemarin kami naik angkot sebelas kali. Gubrak!
Tentang tesnya ga usah aku ceritain ya. Yang jelas, soal2nya bikin laper. Susyeh bener..

Pulangnya kami dijemput sama sepupu2ku yang baek hati, yang nganter kami tadi pagi. Nyampe Klender sekitar jam 2 siang. Makan, nonton tivi, istirahat, ngobrol2, terus pulang ke Depok sekitar jam setengah 5. Btw, seumur-umur (dari aku lahir sampe umurku yang udah lebih dari 23 tahun ini) baru pertama kali ini aku ketemu sama budeku. Hehe.. Kenapa bisa sampe begitu? Mau tau ceritanya? Kita ketemu langsung aja, nanti aku ceritain. Bagi yang ga pengen tau ceritanya, kita lanjutkan cerita yang tadi.

Capek aku cerita. Pokoknya aku sama temanku pulang ke Depok, terus langsung berangkat ke stasiun Jatinegara. Malam itu juga kami mau pulang ke Jogja. Perjalanan kami sampe ke Depok dilanjutkan ke Jatinegara, ditemani sama sepupuku yang kuliah di STIS tadi. Untuk sampe ke Depok, kami naik KRL dari stasiun Tebet. Sebelum ke stasiun Tebet dengan diantar sama sepupuku (putranya bude), kami mampir ke kos sepupuku yang kuliah di STIS tadi. Sampai di rumah bulik, aku sama temanku langsung beres2, makan, terus berangkat ke stasiun Jatinegara.

Akhir cerita, kami udah di stasiun Jatinegara. Karena udah kemalaman, kami ga bisa ikut kereta bisnis. Akhirnya, dengan tabah aku dan temanku (cewek2 yang sok tangguh) ikut kereta ekonomi "Progo". Tau sendiri kan kereta ekonomi dari Jakarta pada hari Sabtu (akhir pekan)?? PENUH!! Kami beli tiket. Tapi kami ga dapat tempat duduk. Pfuh.. Tekad kami hanya satu: sampai ke jogja secepatnya. Titik.

Dapat dibayangkan bagaimana suasana di kereta. Ya penuh! Dan kami ga dapat tempat duduk. Alhamdulillah kami ga harus berdiri terlalu lama. Ada penumpang yang berbaik hati dan mau membagi kursinya dengan kami. Aku sama temanku ga deketan. Yang penting kami duduk. Mungkin tampang kami melas banget waktu itu. Haha! Ga tau deh. Aku berdoa, semoga amal baik penumpang itu diterima Allah SWT. Amin. Ga usah aku ceritain gimana kondisi di dalam kereta malam itu. Bayangkan sendiri lah. Yang jelas, lebih parah dari pada pas aku berangkat ke Jakarta. Akhirnya! Kami sampai di stasiun Lempuyangan sekitar jam setengah 8. Pfuh, lega..  Oh Jogja, akhirnya aku kembali padamu. I miss you so much! Tenin! (saking tenan-e).

Udah aja lah ceritanya. Pokoknya, aku bisa selamat pulang ke rumah dengan utuh-tidak kurang secuil pun. Semoga ceritaku tidak membingungkan. Kalo memang membingungkan dan ga jelas, yang memang begitulah yang ingin kusampaikan. Alah!
Wis lah, intin-e: nikmati saja apa yang ada, apa yang dihadapanmu, apa yang menimpamu. Selalu ada alasan untuk membuat semuanya menjadi menyenangkan.

Sekedar untuk diketahui:
Tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan, cerita ini telah mengalami pemotongan dan penyingkatan.
Tokoh-tokoh yang terlibat: aku, Aini (temanku), mas Udin (kakakku), Bulik Wur (bulikku yang di Depok), Sinung (sepupuku yang kuliah di STIS, putranya Om Budi), Om Budi (ayahnya Sinung, kakaknya Bulik Wur), Bude Amah (budeku yang di Klender, kakak ipar Om Budi dan Bulik Wur), mas Agus (sepupuku yang nganter ke PRJ, putranya bude), mas Bambang (sepupuku yang nganter ke PRJ, putranya bude).

Sebenarnya masih ada banyak lagi yang terlibat dalam cerita ini yang belum aku sebutkan. Pokoknya, terima kasih buat keluarga Bulik Wur (mas Irfan-adik ipar bulik, Iksan, Nurul dan Sidiq-putra putri bulik) dan keluarga Bude Amah (Syifa dan ibunya-putri dan istrinya mas Agus). Terima kasih buat semua, juga buat yang belum aku sebutkan. Terima kasih…
Buat pendukung2ku di Jogja, jangan pernah berhenti mendukungku. Doakan aku bisa dapat pekerjaan di Jogja ya..

Skripsi

June 26th, 2005 by plung

Siapa sih yang bilang kalo skripsi itu susah??? Aku pengen bilang ke orang itu, aku sepakat.

Pfuh! Kenapa ya skripsi itu susah… Temenku pernah bilang kalo skripsi itu sebenarnya bisa dibikin susah tapi bisa juga dibikin mudah. Kalo gitu aku mo bikin mudah aja lah. Ngapain susah2 mikir skripsi. Itu kan cuma bagian kecil dari hidup kita. Nikmati saja. Kalo memang susah pas ngerjainnya ya dinikmati aja. Yang penting berusaha ngerjain dg baik dan sungguh2. Perkara itu nanti bakalan jadi skripsi yang jelek bin ga bermutu yaa… udah. Mo gimana lagi. Apa sih resiko terburuk? Paling2 juga dimarahin sama dosen kan? Atau diejek habis2an karena ga bisa bikin sesuatu yang bermutu padahal kuliahnya udah lama. Haha!

Gpp. Yang penting hidup kita bermutu. Hidup kita bisa dikatakan bermutu ga tergantung sama skripsi kan. Lagian buat apa sih skripsi? Belum tentu juga ada yang mo baca. Tapi sebenarnya dulu pas aku mo mulai ngerjain skripsi, aku punya keinginan skripsiku ini bakalan jadi “sesuatu”. Yaa ada manfaatnya lah buat orang lain, ga cuma jadi syarat untuk meluluskan diri dari UGM. Masak udah susah2 bikin tapi ga ada manfaatnya buat orang lain. Rugi dong. Ga sebanding dg energi dan waktu yang dipake buat ngerjain itu kan. Lagian bukti lulus (ijazah) bukan segala2nya. Bukan jaminan pula untuk mempermudah pas nyari kerjaan. Katanya sih gitu… :D

Aku juga pengen skripsiku ini ga usah tebal2. Buat apa sih tebal2 kalo ga ada “isinya”. Gitu kata masku :D

Hehe.. Sayang kertasnya kan kalo tebal2. Kita harus lebih hemat kertas demi kelestarian hutan kita yang semakin ga jelas nasibnya B-)

Tapi ya itu semua balik lagi ke: apa sih yang kita cari? Hidup buat apa sih? Buat cari duit? Buat cari makan? Buat cari masalah? Buat cari pasangan hidup? Buat cari anak ilang? Buat cari jarum ditumpukan jerami?

Kalau aku sih mo nyari semuanya, pengennya bisa dapet semuanya. Hehe..

Tapi aku pengen ada "nilai lebih" di situ. Kalo nyari duit ya ga sekedar nyari duit. Nyari duit hanya jalan, bukan tujuan.

Hidup itu kan permainan. Jadi ya nikmati saja, ikuti irama permainan dan aturan2nya :)

Eh, aku tadi ngomong apa sih. Kok aku jadi bingung sendiri ya…

Udah aja ah. Aku mo ngerjain skripsi lagi. Takut dimarahi sama masku lagi. Hehe..

Perjuangan belum berakhir. Skripsi oh skripsi…

absurd

June 19th, 2005 by plung

pfuh!!