Lebih dari 23 tahun aku hanya mendengar nama Jakarta dan melihatnya lewat televisi atau surat kabar. Akhirnya bisa juga aku bertandang ke kota itu. Tanggal 28 September kemarin aku berangkat ke Jakarta karena ada panggilan tes CPNS Deplu. Sebenarnya ga niat2 banget sih. Aku bukan orang yang senang bepergian dan berjalan-jalan jauh dari rumah. Jenis orang rumahan. Hehe.. Tapi sayang juga kalau mau dilewatkan. Akhirnya aku berangkat juga ke Jakarta, itung2 buat pengalaman.
Aku berangkat ke Jakarta bareng sama seorang temanku dan diantar sama kakakku. Kami ke Jakarta naik kereta ekonomi "Progo". Berangkat dari Jogja sekitar jam 5 sore. Alhamdulillah dapat tempat duduk. Meskipun pake acara deg2an juga. Gimana enggak, kakakku nggak beli tiket buat kami bertiga. Kakakku bilang, kami ikut restorasi. Maksudnya, ada petugas dari Perumka yang bawa kita2. Tetap bayar sih, tapi cuma 25 ribu. Harusnya sih bayar 38 ribu. Haha! Dasar kakakku yang satu itu.
Tapi sebenarnya aku ga terlalu khawatir juga sih pas di kereta, cuek aja. Lha wong sebagian besar waktuku di kereta aku habiskan buat tidur. Hehe.. Biasa, akibat sampingan karena minum antimo-obat anti mabok. Sekedar untuk diketahui, aku memang terkenal sebagai tukang mabok. Mabok kendaraan maksudnya. Haha! Payah! Doakan saja, predikat pemabuk itu bisa segera hilang dari diriku.
Kemalasanku untuk pergi2 (yang agak jauh dari rumah) mungkin juga karena urusan mabok2an tadi. Ga tau kenapa, aku bisa sampai tergerak untuk berangkat ke Jakarta. Padahal sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam, ga ada secuil pun keinginan untuk kerja di Jakarta. Aku dah sering mendengar cerita dari orang2 tentang Jakarta. Panas, macet, orang yang saling ga peduli, crowded, atau juga cerita tentang kekejamannya yang melebihi ibu tiri. Pokoknya ga enak banget kedengarannya. Atau mungkin juga karena aku dah cinta mati sama Jogja. Jogja, I love you. Sumpah!!
Balik ke kereta lagi ya. Aduh, kesiksa banget aku di kereta. Panas! Tidurku ga nyaman banget. Aku belum pernah naik kereta untuk perjalanan sejauh ini. Mmh.. tapi sepertinya perjalananku ke Jakarta ini memang perjalanan terjauhku. Hehe..
Singkat kata singkat cerita aja deh ya. Akhirnya aku nyampe di rumah bulikku (adiknya bapak), di Depok. Sempat lewat kampus UI, lha wong kami bertiga ikut bus kampus. Lumayan, gratis. Ga cuma bus kampus sih yang gratis, pas naik KRL ke stasiun UI juga gratis kok. Kami bertiga ga beli tiket (lagi). Tapi alhamdulillah kami baik2 saja dan bisa nyampe tempat bulik dengan selamat-sentausa. Hehe.. Btw, kampus UI tu bagus ya ternyata. Sejuk, banyak pohon2. Menyenangkan. Jadi pengen kuliah lagi. Alah! Ga ding. Hehe..
Kami nyampe di rumah bulik hari Kamis tanggal 29 sekitar jam setengah 9. Rumahnya nyaman, lumayan gede, ada banyak pohon dan tanaman di sekitar rumah, jadi masih bisa mendengar kicauan burung. Suara cicak juga ada. Kodok yang ga ada. Tapi agak2 panas. Jadi pengennya mandi terus.
Pengennya sih setelah dzuhur aku sama temanku mau ngambil kartu ujian ke Pusdiklat Deplu di Jalan Sisingamangaraja 73 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Alamat yang sama sekali ga kami tau. Makanya, aku minta dianterin sepupuku yang kuliah di Jakarta. Sepupuku ini kuliahnya di STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), di daerah Otista. Jakarta mana tuh, aku ga ngerti. Hehe.. Tapi hari itu sepupuku ga bisa nganter. Ya wis, akhirnya hari itu acaranya beristirahat di rumah. Kakakku yang bertugas mengantar aku dan temanku balik lagi ke Jogja setelah ashar. Dia mampir dulu ke tempat budeku di Klender (Jakarta mana lagi itu, aku juga ga tau), minta dianterin ke stasiun Jatinegara sama sepupuku.
Singkat kata singkat cerita (kalo mau yang ga singkat kita ketemu aja, nanti aku ceritain), sudah hari Jumat tanggal 30. Ini hari terakhir pengambilan kartu ujian. Aku, temanku dan sepupuku berangkat dari rumah bulik sekitar jam setengah 9, setelah kami sarapan. Perjalanan dari rumah bulik ke Pusdiklat Deplu, bukanlah perjalanan yang mudah untuk dilalui. Mesti ganti angkot beberapa kali, mesti nanya ke orang, salah angkot, jalan kaki lumayan jauh, kehujanan… Pfuh..
Tau ga, ternyata sepupuku ini belum pernah ke Pusdiklat Deplu. Padahal informasi yang aku dapat dari om ku (ayah sepupuku, kakak bulikku yang di Depok), dia udah pernah ke sana. Kacau dah! Tapi akhirnya ketemu juga. Alhamdulillah.
Singkat kata singkat cerita (lagi), setelah shalat dan makan siang kami melanjutkan perjalanan ke PRJ (Pekan Raya Jakarta), lokasi tes. Sampe sana udah sore, sekitar jam 4. di sana ga lama, kami cabut lagi. Mo pulang ke rumah bulik di Depok, ngambil baju. Setelah itu mo ke rumah bude di Klender. Rencananya, aku sama temanku mo nginep di sana biar ada yang nganter ke PRJ. Soalnya, sepupuku yang kuliah di STIS tadi ga bisa nganter. Tapi karena kesorean atau lebih tepatnya kemalaman (pake kehujanan juga), kami ga jadi ke Depok dulu tapi langsung ke Klender. Bayangpun! Itu berarti kami ga bawa perlengakapan dan baju ganti untuk nginep di bude. Haha! Tapi aku dan temanku berhasil melewatinya dengan baik (sepertinya).
Tanggal tes akhirnya tiba, Sabtu tanggal 1 Oktober 2005. Pagi2 aku dan temanku diantar sepupuku naik motor. Alhamdulillah kami ga harus berhubungan sama angkot pagi itu. Sehari sebelumnya, kami udah kenyang sama angkot. Temanku sempat ngitung, sehari kemarin kami naik angkot sebelas kali. Gubrak!
Tentang tesnya ga usah aku ceritain ya. Yang jelas, soal2nya bikin laper. Susyeh bener..
Pulangnya kami dijemput sama sepupu2ku yang baek hati, yang nganter kami tadi pagi. Nyampe Klender sekitar jam 2 siang. Makan, nonton tivi, istirahat, ngobrol2, terus pulang ke Depok sekitar jam setengah 5. Btw, seumur-umur (dari aku lahir sampe umurku yang udah lebih dari 23 tahun ini) baru pertama kali ini aku ketemu sama budeku. Hehe.. Kenapa bisa sampe begitu? Mau tau ceritanya? Kita ketemu langsung aja, nanti aku ceritain. Bagi yang ga pengen tau ceritanya, kita lanjutkan cerita yang tadi.
Capek aku cerita. Pokoknya aku sama temanku pulang ke Depok, terus langsung berangkat ke stasiun Jatinegara. Malam itu juga kami mau pulang ke Jogja. Perjalanan kami sampe ke Depok dilanjutkan ke Jatinegara, ditemani sama sepupuku yang kuliah di STIS tadi. Untuk sampe ke Depok, kami naik KRL dari stasiun Tebet. Sebelum ke stasiun Tebet dengan diantar sama sepupuku (putranya bude), kami mampir ke kos sepupuku yang kuliah di STIS tadi. Sampai di rumah bulik, aku sama temanku langsung beres2, makan, terus berangkat ke stasiun Jatinegara.
Akhir cerita, kami udah di stasiun Jatinegara. Karena udah kemalaman, kami ga bisa ikut kereta bisnis. Akhirnya, dengan tabah aku dan temanku (cewek2 yang sok tangguh) ikut kereta ekonomi "Progo". Tau sendiri kan kereta ekonomi dari Jakarta pada hari Sabtu (akhir pekan)?? PENUH!! Kami beli tiket. Tapi kami ga dapat tempat duduk. Pfuh.. Tekad kami hanya satu: sampai ke jogja secepatnya. Titik.
Dapat dibayangkan bagaimana suasana di kereta. Ya penuh! Dan kami ga dapat tempat duduk. Alhamdulillah kami ga harus berdiri terlalu lama. Ada penumpang yang berbaik hati dan mau membagi kursinya dengan kami. Aku sama temanku ga deketan. Yang penting kami duduk. Mungkin tampang kami melas banget waktu itu. Haha! Ga tau deh. Aku berdoa, semoga amal baik penumpang itu diterima Allah SWT. Amin. Ga usah aku ceritain gimana kondisi di dalam kereta malam itu. Bayangkan sendiri lah. Yang jelas, lebih parah dari pada pas aku berangkat ke Jakarta. Akhirnya! Kami sampai di stasiun Lempuyangan sekitar jam setengah 8. Pfuh, lega.. Oh Jogja, akhirnya aku kembali padamu. I miss you so much! Tenin! (saking tenan-e).
Udah aja lah ceritanya. Pokoknya, aku bisa selamat pulang ke rumah dengan utuh-tidak kurang secuil pun. Semoga ceritaku tidak membingungkan. Kalo memang membingungkan dan ga jelas, yang memang begitulah yang ingin kusampaikan. Alah!
Wis lah, intin-e: nikmati saja apa yang ada, apa yang dihadapanmu, apa yang menimpamu. Selalu ada alasan untuk membuat semuanya menjadi menyenangkan.
Sekedar untuk diketahui:
Tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan, cerita ini telah mengalami pemotongan dan penyingkatan.
Tokoh-tokoh yang terlibat: aku, Aini (temanku), mas Udin (kakakku), Bulik Wur (bulikku yang di Depok), Sinung (sepupuku yang kuliah di STIS, putranya Om Budi), Om Budi (ayahnya Sinung, kakaknya Bulik Wur), Bude Amah (budeku yang di Klender, kakak ipar Om Budi dan Bulik Wur), mas Agus (sepupuku yang nganter ke PRJ, putranya bude), mas Bambang (sepupuku yang nganter ke PRJ, putranya bude).
Sebenarnya masih ada banyak lagi yang terlibat dalam cerita ini yang belum aku sebutkan. Pokoknya, terima kasih buat keluarga Bulik Wur (mas Irfan-adik ipar bulik, Iksan, Nurul dan Sidiq-putra putri bulik) dan keluarga Bude Amah (Syifa dan ibunya-putri dan istrinya mas Agus). Terima kasih buat semua, juga buat yang belum aku sebutkan. Terima kasih…
Buat pendukung2ku di Jogja, jangan pernah berhenti mendukungku. Doakan aku bisa dapat pekerjaan di Jogja ya..